Pernahkah kamu merasa harus membeli sepatu merek terbaru hanya karena semua orang di media sosial memakainya? Atau mungkin kamu merasa "ketinggalan zaman" jika tidak mencoba menu viral minggu ini? Jika iya, kamu sedang bersinggungan dengan fenomena global yang disebut konsumerisme.
Konsumerisme bukan sekadar aktivitas belanja biasa. Ia adalah ideologi atau gaya hidup di mana seseorang mengonsumsi barang secara berlebihan, bukan karena butuh, melainkan demi status sosial atau kepuasan sesaat. Tantangan ini kini jauh lebih nyata dibandingkan satu dekade lalu.
Dulu, konsumerisme dipicu oleh iklan televisi atau papan reklame di pinggir jalan. Namun, di era 2026 ini, wajah konsumerisme telah bermutasi menjadi lebih personal dan sulit dihindari:
Algoritma yang "Menghantui" Media sosial kini tahu apa yang kamu inginkan bahkan sebelum kamu menyadarinya. Algoritma terus menyodorkan iklan produk yang sesuai dengan minatmu, membuat keinginan beli muncul secara terus-menerus.
Fenomena Influencer dan Affiliate Batas antara rekomendasi tulus dan iklan kini semakin kabur. Ketika tokoh idola melakukan unboxing atau memberikan tautan belanja, ada dorongan psikologis untuk meniru gaya hidup mereka agar kita merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Kemudahan Transaksi (Bayar Nanti, Menyesal Kemudian) Fitur PayLater dan dompet digital membuat proses belanja terasa tidak "menyakitkan". Tanpa memegang uang tunai fisik, pelajar seringkali kehilangan kontrol atas berapa banyak saldo yang telah terkuras.
Konsumerisme yang tidak terkendali membawa dampak yang tidak main-main bagi anak muda:
Kesehatan Mental: Munculnya rasa cemas (FOMO - Fear of Missing Out) jika tidak bisa mengikuti tren.
Krisis Finansial Dini: Kebiasaan berutang atau menghabiskan uang saku untuk hal-hal non-esensial.
Dampak Lingkungan: Produksi barang massal (terutama fast fashion) menyumbang limbah yang merusak bumi.
Melawan konsumerisme bukan berarti kita tidak boleh belanja sama sekali. Kuncinya adalah menjadi konsumen bijak. Sebelum menekan tombol "Check Out", coba tanyakan tiga hal ini pada dirimu sendiri:
Apakah saya benar-benar membutuhkannya atau hanya menginginkannya?
Apakah barang ini akan tetap berguna bagi saya dalam enam bulan ke depan?
Apakah saya membelinya karena diri sendiri atau karena tekanan lingkungan?
"Kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya barang yang kita miliki, tetapi dari seberapa sedikit kita bergantung pada barang-barang tersebut."
Mari kita jadikan literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi juga membaca pola konsumsi kita sehari-hari. Jadilah generasi yang mengendalikan tren, bukan dikendalikan olehnya.